Film - The Legong: Dance of the Virgins (1935)

Publikasi Senin, 17 Agustus 2015 oleh Achmad Maulidi,
Film The Legong: Dance of the Virgins dibuat pada tahun 1933 dan diliris pada tahun 1935, dengan sutradara Henri de la Falaise. Pada dasarnya film ini merupakan film bisu yang hanya dengan iringan musik, tapi tahun 1952 telah dibuat Soundtrack musik orkestra dan gamelan dalam format stereo, sangat efektif dan meningkatkan suara musik asli yang terdengar lirih.

The Legong: Dance dari Virgins dibangun kembali pada tahun 1992 oleh UCLA Film dan Television Archives. Film ini telah mengalami sensor di beberapa negara yang dianggap mengandung kekerasan dan seksualitas. Berdasarkan hasil film yang telah disensor dari Amerika Serikat (telanjang dada), Inggris (sabung ayam), dan Kanada, digabungkan kembali dan distribusi oleh Paramount Pictures Corporation. Dengan menduplikasi dan splicing negatif yang tersisa, film itu dikembalikan ke versi panjang dan lengkap dan tentu saja telah menjadi full color.


The Legong: Dance of the Virgins


Film The Legong Latar Belakang Budaya Bali


The Legong adalah salah satu dari dua film yang diproduksi oleh Bennett Picture Corporation. Constance Bennett pemilik Bennett Picture Corporation saat berkunjung ke Bali menemukan eksotis budaya masyarakat Ubud Bali dan mencoba mengangkatnya menjadi sebuah film layar lebar.

Pembuatan film The Legong dance sepenuhnya berlokasi di Desa Ubud Bali, Indonesia, antara bulan Mei dan Agustus 1933, dengan menggunakan pemain asli penduduk setempat. Budaya Bali yang eksotis seperti upacara agama, tarian, pembakaran mayat ngaben hingga wanita Bali yang bertelanjang dada, memiliki daya tarik bagi Constance Bennett untuk membuat sebuah film.

Pemilihan judul film ini merujuk salah satu tarian yang paling terkenal dari semua tarian Bali yaitu legong. Menurut legenda populer, Pangeran Karna (seorang pangeran Bali yang memerintah pada abad ke-19) bermimpi bahwa ia melihat bidadari muda di surga melakukan tarian lemah gemulai dan anggun. Ketika sang pangeran terbangun, dia memenuhi visinya dengan mengajarkan tari dan musik dari mimpi tersebut untuk desanya.

Di film ini diselingi beberapa adegan kehidupan masyarakat Bali sehari-hari seperti di pasar, sabung ayam, dan upacara ngaben. Selain tari legong, ditampilkan juga tari barong yang cukup terkenal dengan mistiknya dan khususnya untuk tarian Djanger.

Sinopsis Film The Legong: Dance of the Virgins


Dalam film The Legong: Dance of the Virgins, seorang gadis Bali bernama Putu, telah terpilih sebagai salah satu penari legong desanya. Putu tertarik dan jatuh cinta kepada Nyong seorang pemuda penabuh gamelan. Akan tetapi, Nyong tertarik kepada Saplak, adik Putu.

Saat akan menari legong di Pura Suci, Nyong menulis surat untuk membuat janji bertemu Saplak. Namun surat tersebut tidak sengaja diketahui oleh Putu. Setelah acara tarian legong berakhir, Nyong dan Saplak bertemu secara sembunyi-sembunyi, dan Putu pun diam-diam mengikuti mereka.

Akhirnya, Putu menjadi frustrasi karena cintanya ditolak, dan mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri melompat ke sungai dari jembatan yang menghubungkan desanya tersebut. Film di akhiri dengan upacara ngaben kepada jenasah Putu.

The Legong: Dance of the Virgins

  • Produksi: Bennett Picture Corporation 1933
  • Sutradara: Henry de la Falaise
  • Pemain: Goesti Poetoe Aloes (Putu), Njoman Njong (Nyong), Goesti Bagus Mara (Ayah Putu), Njoman Saplak (adik Putu)
  • Studio: Milestone/Image Entertainment
  • Video: 1.33:1 full screen, 2-color Technicolor & B&W
  • Audio: Dolby Digital mono & stereo
  • Tambahan: Second optional music track in stereo featuring Gamelan Sekar Jaya and the Club Foot Orchestra, Second feature film: Gods of Bali (1952, 56 min.), 
  • Durasi: 56 menit

Film - The Legong: Dance of the Virgins - Kanal Pengetahuan


Posting Komentar

Gunakan Nama yang wajar. Promosi, Out Of Topic, Link aktif akan dihapus