Haji Pada Masa Kerajaan Islam di Nusantara

Publikasi Minggu, 22 Mei 2016 oleh Achmad Maulidi,
Haji Pada Masa Kerajaan Islam di Nusantara. Terdapat beberapa catatan tentang penduduk Nusantara pada jaman dulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji. Namun kisah-kisah orang yang melakukan ibadah Haji pada waktu itu hanya golongan tertentu seperti kalangan istana atau keluarga kerajaan. Bisa saja hal itu menunjukkan bahwa perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji membuatuhkan persiapan dan biaya yang sangat besar. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya masyarakat kalangan bawah yang juga telah berhasil menunaikan ibadah haji namun tidak tercatat dalam sejarah.

Haji Pada Masa Kerajaan Islam di Nusantara

Haji Pada Masa Kerajaan Islam di Nusantara


Naskah tentang pemeluk agama Islam yang pertama kali di tanah Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh. Bratalegawa adalah orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaan Galuh, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa (Atja, 1981:47).

Sebagai putra Raja Galuh, Bratalegawa memilih hidupnya sebagai seorang saudagar dan sering melakukan pelayaran ke Sumatra, Cina, India, Srilanka, Iran, sampai ke negeri Arab. Sesampai di  Gujarat, Bratalegawa menikah dengan seorang muslimah bernama Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam.

Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa beserta istrinya kembali ke kerajaan Galuh di Ciamis pada tahun 1337 Masehi. Di Galuh ia menemui adiknya, Ratu Banawati, untuk bersilaturahmi sekaligus mengajaknya masuk Islam. Tetapi upayanya itu tidak berhasil. Dari Galuh, Haji Purwa pergi ke Cirebon Girang untuk mengajak kakaknya, Giridewata atau Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi penguasa kerajaan Cirebon Girang, untuk memeluk Islam. Namun kakaknya pun menolak.

Bratalegawa atau Haji Purwa kemudian menjadi Raja Galuh menggantikan kakanya, Prabu Maharaja (1350-1357) yang gugur dalam perang Bubat yaitu peperangan antara Pajajaran dengan Majapahit.

Naskah kuno dalam Carita Parahyangan terdapat kisah orang-orang jaman dulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji yaitu dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti Wawacan Sunan Gunung Jati, Wawacan Walangsungsang, dan Babad Cirebon.

Dalam naskah-naskah tersebut dikisahkan adanya tokoh yang pernah menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, dan pernah berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahpi selama tiga tahun di Gunung Amparan Jati Cirebon.

Setelah cukup berguru ilmu agama Islam, atas saran Syekh Datuk Kahpi, Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan menambah ilmu agama Islam, diperkirakan terjadi antara tahun 1446-1447 atau satu abad setelah Bratalegawa.

Dalam perjalanan ibadah haji itu, Rarasantang dinikahi oleh Syarif Abdullah, Sultan Mesir dari Dinasti Fatimiyah, dan memiliki dua anak yaitu Syarif Hidayatullah (1448) dan Syarif Arifin (1450). Sebagai seorang haji, Walangsungsang kemudian berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman, sementara Rarasantang berganti nama menjadi Hajjah Syarifah Mudaim.

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 – 1682, Beliau mengirimkan putranya Pangeran Gusti atau Abdul Kahar ke Mekah untuk berhaji dan sekaligus menemui sultan Mekah untuk mendekatkan hubungan Banten dengan penguasa Masjidil Haram dan Ka’bah serta memperluas wawasan keIslamannya.pada tahun 1671. kemudian Abdul Kahar kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Haji.
Tentunya masih banyak kisah orang-orang dari luar Pulau Jawa yang melaksanakan ibadah Haji Pada Masa Kerajaan Islam di Nusantara. Pada waktu itu perjalanan  para musafir untuk menuaikan ibadah Haji berhadapan dengan bermacam-macam bahaya selain biaya yang besar. Musafir yang sampai ke tanah Arab pun belum tentu aman. Tidak mengherankan apabila calon jemaah dilepas kepergiannya dengan derai air mata; karena khawatir mereka tidak akan kembali lagi serta inilah yang menyebabkan Asal Usul Gelar Haji di Indonesia.

Disarikan dari http://kerinci.kemenag.go.id/


Haji Pada Masa Kerajaan Islam di Nusantara - Kanal Pengetahuan



Posting Komentar

Gunakan Nama yang wajar. Promosi, Out Of Topic, Link aktif akan dihapus