8 Mitos Mengenai Budaya Perusahaan

Publikasi Minggu, 20 Agustus 2017 oleh Achmad Maulidi,
Sebagai nilai-nilai dan keyakinan bersama yang mendasari indentitas perusahaan, budaya perusahaan memang harus disosialisasikan terus menerus dan diharapkan mempengaruhi perilaku pegawai dalam bekerja.

Untuk memahami budaya perusahaan secara lebih baik, perlu dipastikan bahwa kita tidak terjebak kepada mitos mengenai budaya perusahaan. Karena, jika tidak memahami mitos tersebut, sulit
rasanya bagi para pekerja memberikan nilai tambah terhadap produk dan jasa bagi pelanggan sebagai imbalan atas penghargaan finansial.

Mitos Budaya Perusahaan

Mitos Mengenai Budaya Perusahaan


Setiap perusahaan tentunya memiliki budaya yang berbeda-beda, kendatipun ada yang mirip.
Setiap budaya perusahaan memiliki karakteristik budaya yang beragam pula. 8 Mitos Mengenai Budaya Perusahaan menurut Terrence E. deal dan allan a. Kennedy

1. Budaya adalah alat yang tepat memecahkan persoalan secara cepat.

Yang bisa diterapkan secara cepat untuk memecahkan masalah adalah strategi bukan budaya perusahaan. Misalnya, sebuah perusahaan penerbangan menutup rute tertentu karena tingkat keterisian pesawat rendah. Strategi tersebut bisa saja diubah bilamana tingkat keterisian pesawat naik kembali.

2. Budaya dan strategi tidak ada hubungannya sama sekali.

Budaya dan strategi perusahaan sejatinya tidak dapat dipisahkan. Strategi menjelaskan bagaimana cara mencapai tujuan dan budaya perusahaan memastikan bagaimana karyawan harus berperilaku untuk meraih keberhasilan. Ahli strategi yang baik biasanya membangun strategi berdasarkan kekuatan alamiah dan budaya perusahaan yang dimiliki.

3. Budaya menolak semua bentuk perubahan.

Mitos ini tidak tepat karena budaya perusahaan mengalami penyesuaian mengikuti segala perubahan yang terjadi pada lingkungan. Bilamana nilai-nilai dan praktik utama sudah tidak lagi dianggap relevan, anggota organisasi akan melakukan kajian dan pendefinisian ulang budaya perusahaan.

4. Perubahan budaya dapat dikelola.

Mitos ini benar dengan beberapa catatan; perubahan budaya bisa dilakukan jika anggota organisasi merasa perlu melakukannya dan siap untuk berubah. Perubahan budaya tidaklah mudah untuk dikelola. Perubahan budaya muncul karena kesadaran kolektif yang menginginkan perubahan dan hal ini kerap kali memakan waktu.

5. Kepemimpinan yang hebat merupakan kunci untuk menanamkan budaya perusahaan yang kuat.

Kepemimpinan memang menentukan pembentukan budaya perusahaan yang kuat. Kepemipinan membentuk lingkungan kerja dimana setiap orang kemudian mengidentifikasikannya. Kepemimpinan memang kunci membangun budaya yang kuat, tetapi bukan berarti untuk menanamkan budaya perusahaan diperlukan pimpinan yang luar biasa.

6. orang bergantung kepada budaya yang dipahami bahkan ketika sudah tidak relevan lagi.

Orang berpegang kepada cara lama karena membantu mereka mencapai kondisi seperti sekarang ini. Status quoseperti ini jika dibiarkan akan sangat berbahaya. Maka, manajemen perusahaan yang baik harus segala melakukan langkah terencana untuk mulai mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang konvensional.

7. Budaya yang kuat bersifat monolitik.

Budaya yang kuat tidaklah monolitik karena dia dibangun berdasarkan keberagaman dan dinamika lingkungan yang terjadi.

8. Budaya tidak untuk setiap orang.

Budaya kerja jelas mempengaruhi bagaimana kita berpersepsi, berpikir dan bertindak. Budaya perusahaan meresap ke setiap individu dalam organisasi dan akan terus mewarnai perilaku karyawan. Maka, budaya perusahaan harus berlaku untuk setiap orang. Mereka yang tidak merasa sesuai dengan budaya organisasi pada akhirnya akan memilih ke luar dari organisasi.



Mitos Budaya Perusahaan - Kanal Budaya

Posting Komentar

Gunakan Nama yang wajar. Promosi, Out Of Topic, Link aktif akan dihapus