Sejarah Patung Chairil Anwar Di Kota Malang

Publikasi Rabu, 12 Oktober 2016 oleh Achmad Maulidi,
Sejarah keberadaan Patung Chairil Anwar Di Kota Malang mungkin banyak orang yang belum tahu, bahkan masyarakat Malang pun banyak yang tidak tahu bahwa sebuah patung di kawasan Kayu Tangan (sekarang Jalan Basuki Rahmad) itu adalah sosok Chairil Anwar salah seorang penyair ternama di Indonesia.

Patung Chairil Anwar Di Kota Malang dengan wujud separuh badan tanpa lengan ini, berada di simpang tiga depan Gereja Katolik Hati Kudus dan Restoran Toko Oen Malang, tidak jauh dari alun-alun kota Malang. 

Di Indonesia, patung Chairil Anwar hanya ada dua, yaitu di Jakarta dan di Malang. Berbeda dengan patung di Jakarta yang disandingkan dengan tokoh lain dan berada di dalam gedung di Monas, di Malang patung Chairil Anwar berada di luar gedung dan diletakkan di tengah jalan sehingga dapat dilihat oleh siapa saja yang melintas di jalan tersebut.

Sejarah Patung Chairil Anwar Di Kota Malang

Sejarah Berdirinya Monumen Chairil Anwar di Malang


Chairil Anwar seorang penyair muda Indonesia pelopor Angkatan '45 yang terkenal dengan puisi "Aku" dan "Kerawang Bekasi" datang ke kota Malang saat Sidang Pleno Kelima Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada 25 Februari hingga 6 Maret 1947 yang diadakan di gedung Societiet Concordia (sekarang gedung Sarinah Malang). KNIP merupakan Badan Pembantu Presiden, yang beranggotakan tokoh masyarakat dari berbagai golongan dan daerah-daerah termasuk mantan Anggota PPKI dan cikal bakal DPR.

Sosok pemuda Chairil Anwar yang berjuang membela kemerdekaan lewat tulisan (puisi) hadir mewakili sastrawan dan membuat puisi berjudul ‘Sorga’ (25 Februari 1947) dan ‘Sajak Buat Basuki Resobowo’ (28 Februari 1947) yang kemudian diterbitkan dalam Pantja Raja, 1 April 1947; digabung dalam kumpulan puisi "Deru Campur Debu".

Rupanya, puisi yang dibuat Chairil Anwar tersebut membuat seorang intelektual kota Malang, Achmad Hudan Dardiri yang waktu itu sebagai Penyelidik Militer Khusus kesatuan Chu Gakko kagum dan tertarik pada puisi-puisi Chairil Anwar yang lain. Terlebih dengan syair puisi "Aku" “Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang, menerjang…” yang dianggap dapat menjadi penyemangat perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan.

Achmad Hudan Dardiri akhirnya memiliki gagasan untuk membuat monumen atau patung Chairil Anwar dengan pusi "aku" di bawahnya sebagai semboyan penyemangat perjuangan yang dapat dibaca oleh seluruh masyarakat kota Malang. Akhirnya patung dikerjakan oleh seniman Widagdo dan dibangun di lokasi yang paling strategis pada tengah jalan kayoetangan yang merupakan jalan utama kota Malang waktu itu.

Pada tanggal 28 April 1955, monumen atau Patung Chairil Anwar diresmikan oleh Walikota Malang keenam M. Sardjono Wirjohardjono, dimana tanggal 28 April merupakan tanggal wafatnya Chairil Anwar.

Peresmian Patung Chairil Anwar Di Kota Malang

Dengan adanya Patung Chairil Anwar Di Kota Malang ini menjadi kebanggaan masyarakat Malang karena selain hanya ada dua patung Chairil Anwar yaitu di Malang dan Jakarta, sedangkan di tanah kelahiran Chairil sendiri yaitu Medan tidak ada patungnya. Apalagi letak patung berada di tengah-tengah poros jalan utama kota Malang dekat alun-alun.



Sejarah Patung Chairil Anwar Di Kota Malang - Kanal Pengetahuan



Posting Komentar

Gunakan Nama yang wajar. Promosi, Out Of Topic, Link aktif akan dihapus